SOSIOLOGI EKONOMI

BAB I

PENDAHULUAN

Seorang manusia akan memiliki perilaku yang berbeda dengan manusia lainnya walaupun orang tersebut kembar siam. Ada yang baik hati suka menolong serta rajin menabung dan ada pula yang prilakunya jahat yang suka berbuat kriminal menyakitkan hati. Manusia juga saling berhubungan satu sama lainnya dengan melakukan interaksi dan membuat kelompok dalam masyarakat.Terlebihjika dikaitkan dalam hal kegiatan ekonomi. Banyak hal yang dapat dikaji dalam kaitannya antara sosiologi dan kegiatan ekonomi. Dalam hal ini penulis mamaparkan gambaran umum dari sosiologi ekonomi itu sendiri.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. GambaranUmum Sosiologi Ekonomi

Sosiologi berasal dari bahasa yunani yaitu kata socius dan logos, di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara. Menurut Bapak Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.[1]

Pokok bahasan dari ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.

Tokoh utama dalam sosiologi adalah Auguste Comte (1798-1857) berasal dari perancis yang merupakan manusia pertama yang memperkenalkan istilah sosiologi kepada masyarakat luas. Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi di dunia internasional. Di Indonesia juga memiliki tokoh utama dalam ilmu sosiologi yang disebut sebagai Bapak Sosiologi Indonesia yaitu Selo Soemardjan / Selo Sumarjan / Selo Sumardjan.[2]

Jadi  jika dikaitkan dengan ekonomi, maka sosiologi ekonomi mempelajari berbagai macam kegiatan yang sifatnya kompleks dan melibatkan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumen barang dan jasa yang bersifat langka dalam masyarakat.

Jadi, fokus analisis untuk sosiologi ekonomi adalah pada kegiatan ekonomi, dan mengenai hubungan antara variabel-variabel sosiologi yang terlihat dalam konteks non-ekonomis.[3]

Pola dan sistem yang berlaku dalam mekanisme pasar (interaksi ekonomi yang dilakukan antar individu dan masyarakat) sebenarnya berawal dari hubungan yang sederhana antara individu dan masyarakat (interaksi sosial) dalam rangka mengatasi kelangkaan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial. Bahkan aktivitas ekonomi selalu melekat dalam sosialitas tempat kejadian ekonomi itu berlangsung. Begitupun sebaliknya.

Sebagai contoh mari kita ulas sejenak pandangan sosiologi terhadap fenomena proses produksi dan proses distribusi. Proses produksi dan proses distribusi dengan berbagai analisa yang digunakan disiplin ekonomi ternyata masih mempunyai sisa untuk dipandang dari segi lain oleh disiplin ilmu lain: sosiologi.

Proses produksi dalam pandangan sosiologis ternyata memiliki peran yang cukup vital dalam rangka mempertahankan eksistensi (keberadaan) sebuah masyarakat. Proses produksi dilihat sebagai institusi ekonomi berperan untuk mengadakan kebutuhan-kebutuhan ekonomis sebuah masyarakat. Oleh karena itu, proses produksi tidak hanya dilihat dari segi ekoomis tetapi juga sosiologis yang mempunyai peran subsistem dalam sebuah struktur masyarakat.

Dalam proses distribusi atau pertukaran terlihat proses relasi antara rumah tangga produksi dan rumah tangga konsumsi. Sebenarnya bukan dalam hal distribusi barang hasil produksi saja proses ini terlihat tetapi ketika rumah tangga konsumsi menyediakan faktor-faktor produksi pun proses ini sudah terlihat yaitu distribusi faktor-faktor produksi yang meliputi: sumber daya alam, sumber daya manusia, dan modal. Dengan mencermati proses distribusi kita bisa melihat secara sosiologis bagaimana kegiatan masyarakat berkegiatan dalam bidang ekonomi. Dalam proses inilah yang merupakan relasi antara permintaan dan penawaran kita semakin melihat manusia sebagai makhluk ekonomis dan juga makhluk sosial.

  1. B. Sejarah Perkembangan Sosiologi Ekonomi

Secara historis perkembangan pemikiran Sosiologi Ekonomi antara lain disebabkan oleh berkembangnya paham-paham, pemikiran-pemikiran dan teori-teori tentang ekonomi yang melihat cara kerja sistem ekonomi dengan menekankan pula pada aspek-aspek non-ekonomi.

Salah satu dari paham-paham, teori-teori, pemikiran-pemikiran yang mendukung perkembangan Sosiologi Ekonomi tersebut adalah Paham Merkantilisme, yang berpandangan, bahwa kekayaan dianggap sama dengan jumlah uang yang dimiliki oleh suatu negara dan cara untuk meningkatkan kekuasaan adalah dengan meningkatkan kekayaan Negara.

Didalam kehidupan masyarakat sebagai satu system maka bidang ekonomi hanya sebagai salah satu bagian atau subsistem saja. Oleh karena itu, didalam memahami aspek kehidupan ekonomi masyarakat maka perlu dihubungkan antara factor ekonomi dengan factor lain dalam kehidupan masyarakat tersebut. Factor-faktor tersebut antara lain: faktor agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, etnisitas, dan stratifikasi sosial.

Faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perkembangan ekonomi. Faktor agama dan nilai-nilai tradisional: ada nilai-nilai yang mendorong perkembangan ekonomi, akan tetapi ada pula nilai-nilai yang menghambat perkembangan ekonomi. Demikian pula dengan kelompok solidaritas, dalam hal ini yakni keluarga dan kelompok etnis, yang terkadang mendorong pertumbuhan dan terkadang pula menghambat pertumbuhan ekonomi.[4]

Keberadaan Tradisi sosiologi ekonomi yang besar dan kaya, yang mana dengan kekerasan dimulai berdekatan abad ke-XX. Tradisi ini telah membangkitkan kedua konsep penting ,ide-ide dan hasil penelitian berarti, yang mana kita ketahui saat ini dan terkumpul didalam prespektif. Sosiologi ekonomi mencapai puncakya dua kali sejak kemunculannya: di 1890-1920 dengan teoritis sosiologi klasik (kesemuanya menarik dan menulis mengenai ekonomi), dan saat ini , semenjak 1980an terus berlangsung.

Sosiologi ekonomi klasik dan pendahulunya Yang pertama menggunakan istilah sosiologi ekonomi muncul pada tahun 1879, ketika muncul karya oleh ekonom Inggris W. Stanley Jevons 1879-1965. Istilah itu lebih digunakan oleh ahli sosiologi dan muncul, sebagai contoh, karya Durkheim dan Weber selama tahun 1890-1920 (sociologie economique, Wirtschaftssoziologie). Juga selama beberapa dekade itu sosiologi ekonomi klasik lahir, memberikan contoh bagi karya serupa seperti The Division of Labor in Society(1893) oleh Durkheim, the Philosophy of money(1900) oleh Simmel, dan Economy and Society(dihasilkan antara 1908-20) oleh Weber.

Sosiologi ekonomi klasik mengalami kemajuan untuk mengikuti beberapa karateristik. Pertama, Weber dan yang lain berbagi pengertian itu mereka sebagai pelopor, membangun tipe analisis yang belum ada sebelumnya. Kedua, mereka memfokuskan pada pertanyaan-pertanyaan pokok yang mendasari: apa aturan dari ekonomi di masyarakat?bagaimana analisa sosiologi terhadap ekonomi berbeda dengan para ahli ekonomi? Apa itu tindakan ekonomi? Untuk ini harus ditambahkan tokoh klasik yang mengasyikan dengan pemahaman kapitalisme dan berpengaruh di masyarakat-“perubahan besar” kira-kira membawa hal itu. Melihat beberapa karya bebas kebelakang yang ada sebelum periode 1890-1920 dalam satu aliran atau lainnya menggambarkan terlebih dahulu beberapa pengertian sosiologi ekonomi. Dalam bayangan penting, contoh, Laws oleh Montesquieu sebagai pelopor analisis comperatif kedalam bermacam fenomena ekonomi di negara republik, monarki dan lalim (montesquieu[1748]1989). Menekankan Aturan kerja di masyarakat karya dari Simon (1760-1825), yang juga membantu mempopulerkan istilah indusrtialisme(cf. Saint-Simon 1964). Karya dari Alexis de Tocqueville (1805-1859) yang penuh akan kelebihan, pemikiran sosiologi adalah beberapa dari banyak ahli sosiologi yang setuju. Hal itu juga memberikan kontribusi terhadap sosiologi ekonomi betapapun kecilnya(tocqueville[1835-40]1945,[1856]1955;cf. Swedberg 2003,6-8). Dari beberapa pelopor ini kita hanya akan berkonsentrasi pada Karl Marx, tokoh dengan gagasan terbesar pada abad 19, ide-idenya tetap aktif sebelum lahirnya sosiologi modern.
Karl Marx

Karl Marx (1818-1883) masuk dengan aturan sosiologi ekonomi di masyarakat dan mengembangkan teori menurut ketekunan perkembangan ekonomi secara umum dimasyarakat. Apa yang orang lakukan di kehidupannya, Marx juga berargumen, ada ketertarikan material, dan juga metenaokan struktur dan proses dimasyarakat. Ketika Marx ingin membangun pendekatan secara ilmiah di masyarakat, ia juga memasukan paham politik untuk merubah dunia. Hasilnya kita ketahui sebagai “Marxisme”-campuran dari ilmu sosial dan pernytaan politik, masuk dalam satu ajaran. Untuk bermacam sebab Marxisme salah atau tidak relevan dengan sosiologi ekonomi. Telalu jauh berpihak dan fanatik untuk mengambil seluruhnya. Tugas yang sulit menghadang sosiologi ekonomi saat ini untuk mengintisari aspek-aspek Marxisme yang berguna Pendapat Marx dimulai dari unsur buruh dan produksi. Seseorang bekerja untuk tuntutan hidup. Perhatian ekonomi/material selalu dihubungkan secara umum. Buruh sosial lebih baik dari sifat dasar individual, sejak orang bekerja sama untuk tuntutan hasil. Marx mengkritik ahli ekonomi untuk penggunaan individu yang terisolir; dirinya sendiri terkadang mengatakan “ individu sosial”. Hal terpenting perhatian ini juga pada sifat dasar bersama, istilah Marx “Perhatian Kelas”. Perhatian hal ini, bagaimanapun, hanya akan efektif jika seseorang sadar seharusnya datang ke kelas yang dapat dipercaya. Marx mengkritik pemikiran Adam smith’s mengenai gabungan perhatian individu dan lebih lanjut pada perhatian umum masyarakat(“tangan gaib”). Menurut Marx secara khas kelas menindas dan bertarung sesamanya dengan begitu buas, kisah sejarah ini sama jika ditulis menggunakan “ surat darah dan api” ([1867]1906,786). Kalangan borjuis tidak terkecuali dinalam nilai ini sejak menganjurkan “kekerasan dan keinginan sangat jahat dari hati manusia, kemarahan atas perhatian pribadi” . didalam beberapa karya Marx mengusut sejarah perjuangan kelas, dari masa awal hingga masa mendatang. Rumusan terkenal dari era 1850an, negara berada dipanggung yang benar “hubungan produksi” masuk pada konflik dengan kekuatan produksi dengan revolusi dan jalan pintas ke hal baru “Mode of Production” sebagai hasilnya. Marx menulis Modal bagai meletakan hal kosong “ hukum ekonomi dari gerakan masyarakat modern”. Dan hukum ini bekerja “dengan besi kebutuhan yang tidak dapat dihindari hasilnya” dari perubahan revolusioner. Ciri-ciri positif pendekatan Marx adalah pengertian yang luas kepada orang yang rela untuk berjuang untuk perhatian materi. Ia juga berkontribusi untuk pemahaman bagaimana kelompok besar dari seseorang. Serupa dengan ketertarikan ekonomi, dibawah keadaan yang baik mereka dapat bersatu dan menyadari perhatian bersama. Sisi negatifnya Marx jelas sekali meremehkan aturan di kehidupan ekonomi orang lain dengan lainnya. Dugaannya, ketertarikan ekonomi berada di tangan terakhir dari masyarakat juga tidak mungkin dipertahankan. “ struktur sosial, tipe dan sikap menciptakan ketidaksiapan” untuk memuji kutipan dari Schumpeter.
Marx Weber

Diantara sosiologi ekonomi klasik Marx Weber menempati tempat unik. Ia mengalami proses paling jauh kearah membangun sosiologi ekonomi., dasar teori dan berdasarkan studi empiris(swedberg 1998). Faktanya Ia berkerja mirip profesor ekonomi, tidak ragu-ragu untuk usaha membangun jembatan antaran ekonomi dan sosiologi. Marx weber Juga telah membantu menempati pertanyaan penelitian utama disepanjang karirnya, berupa kesamaan sifat dasar ekonomi dan sosial: untuk memahami asal-usul kapitalisme modern. Weber menggambarkan peranan jahat di pekerjaan teoritisnya terhadap perhatian waktu dan memperluas garis itu dalam membuat pekerjaan dengan pemikiran sosiologi. Pelatihan akademi Weber pada dasarnya menekankan hukum sebagai hal utama, dengan latar belakangnya sebagai spesialis hukum. Dua disertasi- satu dalam perusahaan perdagangan menengah (Lex mercatoria) dan lainnya dalam perdagangan tanah di permulaan Roma- topik yang relevan untuk memahami munculnya kapitalisme: timbulnya pemilikan pribadi terhadap tanah dan pemilikan di perusahaan (menentang pemilikan pribadi). Karya ini mengkombinasikan studi tentang jabatan pekerja desa, berdasarkan pendapatannya dalam posisi ekonomi(“politik ekonomi dan finansial”) di awal 1890an.

Dalam kapasitasnya ia mengajarkan ekonomi namun sebagian besar menerbitkan sejarah ekonomi dan dalam pertanyaan politik. Weber menulis, sebagai contoh, sangat besar menggantikan perundangan. Kearah akhir 1890an Weber jatuh sakit, dan untuk 20 th selanjutnya dia bekerja pada sekolah pribadi. Di tahun ini Ia memproduksi studi terbaik, Etika Protestan dan semangat kapitalisme (1904-05) karya mengenai etika ekonomi didalam dunia religi. Di 1903 Weber menerima posisi kepala redaktur giant hand book of economics. Dari mulai kumpulan pendapat “ekonomi dan masyarakat”yang berasal dari dirinya sendiri. Perkerjaannya saat itu diketahui sebagai “ekonomi dan masyarakat” terdiri atas gabungan karyanya yang telah dipublikasi dan penemuan scrip yang ditemukan setelah kematiannya. Di 1919-20 Weber juga mengajar kursus di sejarah ekonomi, yang mana merupakan bagian catatan bersama selama beberapa tahun di pendidikan dasar, lebih dulu dipublikasikan sebagai sejarah ekonomi umum, mengandung banyak perhatian materi sosiologi ekonomi. Lebih jauh Weber menulis tentang sosiologi ekonomi dapat ditemukan dalam Collected Essays in the Sociology of Religion (1920-21) dan Economy and Society (1922). Yang pertama berisi revisi dari The Protestant Ethic “The Protestant Sects and The Spirit of Capitalism” (1904-05; revisi 1920) dan banyak menulis etika ekonomi Cina, Indian, dan Yahudi. Menurut Weber, bahan dalam Collected Essays, sebagian besar perhatian sosiologi agama juga kepentingan sosilogi ekonomi.

Penelitian yang paling berpengaruh adalah The Protestant Ethic. Berpusat sekitar keasyikan Weber dengan artikulasi dari ideal dan kepentingan material dan ide-ide. Penganut petapa aliran protestan merangsang dengan hasrat untuk menyelamatkan (perhatian religi) dan tindakan yang sesuai. Untuk berbagai alasan yang berlawanan asas akhirnya individu percaya bahwa pekerjaan sekuler (duniawi). Membawanya ke cara metodis, menggambarkan alat keselamatan – kapan ini terjadi, kepentingan agama dikombinasikan dengan kepentingan ekonomi. Hasil kombinasi ini adalah pembebasan dari kekuatan yang besar, yang mana menghancurkan tradisi dan anti ekonomi berpegang pada agama diatas orang dan memeperkenalkan mentalitas baik dalam aktifitas kapitalis. Tesis dalam The Protestant Ethic sudah membawa debat besar, dengan banyak pelajar yang membantah Weber. Sementara ia menulis The Protestant Ethic, Weber menerbitkan sebuat esai, “ ‘Objectivity’ in Social Science and Social Policy” yang menerangkan teoritisnya melihat sosiologi ekonomi. Ia berpendapat ilmu ekonomi harus luas dan seperti paying. Tak hanya memasukkan teori ekonomi tapi juga memasukkan sejarah ekonomi dan sosilogi ekonomi. Weber juga beralasan bahwa analisis ekonomi harus mencakup tak hanya “fenomena ekonomi” tapi juga “fenomena yang berkaitan dengan ekonomi”. Fenomena ekonomi terdiri dari bank-bank dan bursa. Fenomena yang berhubungan dengan ekonomi adalah fenomena non-ekonomi keadaan yang kurang pasti harus mempunyai pengaruh terhadap fenomena ekonomi., seperti pada kasus petapa Protestan. Secara ekonomi fenomena mengkondisikan lebih luas dipengaruhi oleh fenomena ekonomi. Tipe agama yang berkelompok ada rasa persamaan, contoh sebagian bergantung dalam semacam kerja yang anggota lakukan. Sementara teri ekonomi hanya dapat mengatasi fenomena ekonomi murni (dalam versi rasional meraka), sejarah ekonomi dan sosiologi ekonomi bisa menyetujui dengan tiga kategori fenomena.

Sebuah pendekatan yang agak berbeda, keduanya untuk sosiologi ekonomi dan kepentingan, bisa ditemukan dalam Economy and Society. Bagian pertama berisi analisis secara umum. Dua konsep penting adalah “tindakan sosial” dan “permintaan”. Dalam “tindakan” ditegaskan sebagai kebiasaan berinvestasi dengan ‘maksud’, adalah memenuhi syarat sebagai “sosial” jika diorientasikan kepada actor lainnya. “Permintaan” melewati masa, dipandang objektif dan dikelilingi bermacam persetujuan. Ekonomi yang mempelajari tindakan ekonomi murni, adalah semata-mata tindakan oleh kepentingan ekonomi. Bagaimanapun sosiologi ekonomi mempelajari tindakan sosial ekonomi, yang mendorong bukan saja oleh kepentingan ekonomi tapi juga oleh tradisi dan emosi; lagipula selalu berorientasi pada satu aktor. Jika mengabaikan satu tindakan, menurut Weber, malahan focus dalam keseragaman empiris, ada kemungkinan untuk membedakan tiga tipe berbeda : diinspirasikan oleh “pengakuan” oleh “adat” (termasuk “kebiasaan”) dan “kepentingan”. Tipe tindakan yang paling seragam mungkin terdiri dari perpaduan ketiganya. Tindakan yang “ditentukan oleh kepentingan” ditegaskan oleh Weber sebagai instrumen dalam sifat dasar dan mengorientasikan ke dugaan identik. Contoh, pasar modern, dimana setiap aktor rasional secara instrumental dan menganggap semua orang baik.

Weber menegaskan bahwa kepentingan selalu subjektif, kepentingan “objektif” tak ada melebihi aktor. Dalam kalimat khas Weber berbicara “kepentingan aktor sebagai dirinya sendiri adalah sadar akan mereka”. Dia juga mencatat dimana saat beberapa orang berkelakuan dalam sikap instrumental dalam hubungan untuk kepentingan individualis mereka, hasil yang khas adalah motif kebiasaan bersama sangat stabil daripada memaksakan norma dengan wibawa. Contoh, susah untuk membuat seseorang melakukan kegiatan ekonomi untuk melawan kepentingan pribadi.

Uraian sosiologi ekonomi Weber dalam Economy and Society menghasilkan poin-poin pokok. Tindakan ekonomi dua aktor yang berorientasi satu sama lain merupakan hubungan ekonomi. Hubungan ini dapat membawa berbagai ungkapan, termasuk konflik, kompetisi dan kekuatan. Jika dua atau lebih actor atau lebih bersama-sama oleh rasa memiliki, hubungan ekonomi bisa terbuka dan tertutup. Kepemilikan menggambarkan bentuk khusus dari ekonomi tertutup. Organisasi politik merupakan bentuk penting lainnya dari hubungan ekonomi tertutup. Beberapa organisasi ini murni ekonomi, sementara lainnya memiliki sasaran ekonomi yang lebih rendah atau memiliki tugas pokok urusan ekonominya sendiri. Contoh, serikat buruh, Weber melampirkan pentingnya peran kapitalisme dalam perusahaan. Dilihat sebagai tempat aktifitas pengusaha dan sebagai kekuatan revolusioner. Pasar, seperti banyak fenomena ekonomi, berpusat sekitar konflik kepentingan, dalam kasus ini antara penjual dan pembeli. Pasar melibatkan pertukaran keduanya dan kompetisi. Kompetitor harus bertarung habis-habisan siapa yang akan menjadi penjual dan pembeli terakhir, dan hanya bila perjuangan ini sudah mantap adalah tempat untuk pertukaran itu sendiri (perebutan pertukaran). Hanya kapitasime rasional lah pusat tipe pasar modern. Yang disebut kapitalisme politik itu kunci untuk membuat keuntungan adalah cukup negara atau kekuatan politik yang memberi kemurahan, perlindungan, atau semacamnya. Iklan kapitalisme tradisional terdiri dari perdagangan skala kecil, dalam bentuk uang atau barang dagangan. Kapitalisme rasional hanya muncul di Barat.

  1. C. Paradigma Dalam Perkembangan  Sosiologi Ekonomi

Paradigma sosiologi, atau ilmu sosial itu Pembagian sendiri, oleh George Ritzer menjadi tiga golongan[5] :

  1. Paradigma Fakta Sosial

Fakta sosial merupakan terminologi yang digunakan oleh Emile Durkheim, seorang perintissosiologi modern berkebangsaan Perancis. Fakta sosial diartikan Durkheim sebagaicara berfikir, bertindak dan merasa yang berada diluar
kesadaran manusia yang bersifat memaksa. Fakta sosial muncul dalam bentuk
nilai-nilai kultural, institusi sosial, sistem ekonomi juga politik. (Doyle
Jhonson,1997 : 23). Dengan bersifat eksternal dan memaksa, maka fakta sosial
merupakan sesuatu yang bekerja secara obyektif. Artinya fakta sosial ada dan
berada di luar kehendak manusia itu sendiri. Sebagaimana diulas oleh Peter
Berger, keberadaan fakta sosial ini menunjukkan sisi obyektivasi dari kenyataan
sosial (Peter Berger, 1993).Konsepsi Durkheim mengenai fakta sosial merupakan terobosan intelektual yang sangat radikal dizamannya. Hal ini terutama dikarenakan status sosiologi yang berada di antara pengaruh ilmu psikologi dan filsafat sosial. Di jaman itu
sosiologi dipandang belum memiliki status sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki
bidang penyelidikan (obyek masalah/subject matters) sebagai salah satu ukuran
agar memperoleh status itu. Lewat karyanya yang berjudul “The Rule Of Sosiological Methodâ”. Durkheim mengembangkan penggunaan ilmu statistik sebagai salah satu instrument metodologi dalam ilmu sosial, khususnya sosiologi. Dalam karyanya tentang bunuh diri (Suicide), teknik statistik sosial itu coba diterapkan. Dengan perkataan lain,
Durkheim adalah peletak dasar dari perkembangan awal paradigma fakta sosial.
Dalam rumpun paradigma fakta sosial, obyek masalah utama yang sering diselidiki
adalah struktur sosial dan proses sosial. Struktur sosial adalah pola hubungan
sosial (relasi dan interaksi) yang terbentuk di antara individu dengan individu,
individu dengan institusi maupun institusi dengan institusi. Sementara proses
sosial adalah sisi dinamika dari bekerjanya struktur social Teori-teori utama yang terkenal dari paradigma fakta sosial antara lain adalah teori struktural – fungsional, teori konflik sosial serta teori sistem.

  1. Paradigma Definisi Sosial

Paradigma definisi sosial dibangun fondasinya oleh Max Weber, seorang sosiolog
berkebanggaan Jerman. Berbeda dengan batasan sosiologi yang dikembangkan
Durkheim, bagi Weber, sosiologi adalah ilmu sosial yang bersifat interpretative Sosiologi bagi Max Weber adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki makna-makna
subyektif dari sebuah proses interaksi sosial timbal balik untuk memahami
implikasi-implikasi yang dilahirkannya. Karena itu, ilmu sosiologi yang
dimaksudkan oleh Weber dikenal juga sebagai sosiologi subyektif.

Dalam pandangan Peter Berger, ilmu sosiologi yang dimaksudkan oleh Weber,
menunjukkan obyek penyelidikan yang berhubungan dengan konstruksi makna-makna
sosial sebagai sebuah kenyataan sosial tersendiri. Makna-makna subyektif yang
lahir sebagai hasil dialektika antara diri dan kenyataan eksternal inilah yang
disebut sebagai sisi subyektif dari kenyataan social. Dengan perkataan lain, kenyataan sosial tak semata berada di luar kesadaran manusia. Akan tetapi kenyataan sosial itu mengendap dalam struktur kesadaran subyektif manusia dan mempengaruhi dirinya dalam berperilaku. Endapan kognitif dari kenyataan sosial pada diri individu juga turut membentuk peta kognitif uang membuat dirinya mampu menafsirkan perubahan situasi sosial. Definisi diri atas situasi menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diselidiki
dalam kasus interaksi sosial yang bersifat dualistic. Beberapa aliran teoritik penting yang tergolong dalam rumpun paradigma definisi sosial adalah teori interaksionisme simbolik dan teori fenomenologi.Teori interaksionisme-simnolik misalnya berpandangan bahwa kenyataan social sesungguhnya merupakan susunan lambang-lambang yang menyembunyikan makna-makna dibaliknya. Interaksi sosial antara manusia di mediasi oleh lambang-lambang atau sistem lambang (simbol), seperti bahasa, mode berpakaian, kitab hukum, dan lainnya. Tanggung jawab sosiolog untuk menafsirkan dan memahami lambing-lambang itu. Beberapa tokoh penting definisi sosial, selain Max Weber, adalah Alfred Shcuzt, Peter Berger, George Herbet. Mead.

  1. Paradigma Perilaku Sosial

Paradigma perilaku sosial memahami kenyataan sosial berada dalam hubungan
stimulus-respon yang dialami individu ketika berhadapan dengan lingkungan
sosialnya. Individu pada dasarnya memberi tanggapan (respons) sosial karena
mendapatkan stimulus (rangsangan) yang datang dari luar dirinya. Rangsangan ini
bisa datang dari individu atau dari lingkungan sosial yang lebih besar, seperi
keluarga atau institusi politik. Paradigma ini memang sangat kuat dipengaruh
oleh B.F Skinner, seorang psikolog yang mengembang teori
Stimulus-Organizer-Respon. Dalam pemahaman paradigma perilaku sosial, perilaku sosial yang muncul sebagai hasil dari proses stimulus-respon inilah yang menjadi obyek penyelidikan sosiologi. Kenyataan sosial tersusun dalam konteks perilaku sosial yang
demikian. Menurut penganut paradigma ini, masalah pokok sosiologi adalah
perilaku individu yang tak terpikirkan. Perhatian utama paradigma ini pada
hadiah (rewards) yang menimbulkan perilaku yang diinginkan dan hukuman
(punishment) yang mencegah perilaku yang tak diinginkan. Paradigma ini juga
dikenal sebagai aliran behaviorisme sosial. Salah satu teori yang terkenal dari aliran perilaku sosial adalah teori pertukaran sosial yang dikembangkan oleh Herbert Blumer. Bagi Lumer, interaksi sosial sesungguhnya adalah sebuah proses pertukaran sosial yang berisikan makna, kepentingan, juga tujuan-tujuan di antara individu yang berlangsung secara timbal balik.pertukaran sosial yang berlangsung diantara individu itulah yang
menjadi penegas bahwa hukum stimulasi-respon memang benar terjadi.
Stimulasi-respon adalah hukum menggerakkan bekerjanya interaksi sosial yang
menjadi inti dari terbentuknya kenyataan sosial. Dalam perkembangannya kemudian, setiap paradigma makin memperkuat dirinya agar bisa terus menjawab masalah-masalah baru yang muncul di masyarakat. Bahkan tak jarang diantara masing-masing saling meminjam gagasan untuk mempertajam penafsiran. George Ritzer, yang memberi pembagian paradigma ilmu sosiologi sebagaimana telah diulas diatas, mengusulkan untuk menggabungkan tiga paradigma utama dalam satu kerangka paradigma besar. Kerangka paradigma besar itulah yang membuatnya menyebut sosiologi sebagai ilmu pengetahuan berparadigma multi(multiple paradigm). Status berparadigma multi inilah yang membuat sosiologi begitu menarik untuk dipelajari. Dengan memiliki paradigma yang demikian kompleks, sosiologi sesungguhnya memberikan banyak pilihan pendekatan, kerangka berpikir teoritis dan perangkat metodologi yang bisa digunakan tergantung kebutuhan dan situasi sosial empiris. Karena itu, bukan sedikit pemikir sosial yang menyebut sosiologi sebagai induk dari ilmu sosial. Seorang Auguste Comte, yang juga merupakanperintis sosiologi Prancis sebelum Durkheim, di akhir hidupnya bahkan hendakmenjadikan sosiologi sebagai ilmu sosial positifistis untuk menggantikan
pemikiran teologis dan pemikiran metafisis. Dengan berstatus paradigma multi, sesungguhnya ilmu sosiologi dalam pandangan George Ritzer mesti di integrasikan. Kunci bagi paradigma yang terintegrasi adalah gagasan mengenai tingkat-tingkat analisa sosial. Realitas sosial paling cepat dilihat sebagai fenomena sosial yang paling beraneka ragam yang meliputi interaksi dan perubahan terus menerus. Karena itu menganalisis kenyataan social tak bisa sepenuhnya sempurna dan dibutuhkan tingkatan analisa untuk penyelidikan sosiologis yang lebih taja, valid dan proporsional.

  1. E. Ekonomi dan Faktor – Faktor Sosial

Beberapa aspek sosial yang bisa dijadikan acuan dalam melakukan analisis yang mempengaruhi perilaku ekonom oleh individu adalah agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, dan etnisitas.

Dalam perkembangan dunia menuju modern yang semakin menjauh dari “nilai”, aspek-aspek sosial tersebut mendapat serangan yang begitu dahsyat dari para teoritisi modernis. Aspek-aspek tersebut dituding sebagai faktor yang menghambat pertumbuhan industrialisasi. Tetapi, kenyataannya serangan tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Beberapa penelitian tentang agama dan nilai-nilai tradisional dan budaya local memperlihatkan betapa kedua hal tersebut menjadi pendorong bagi kemunculan kapitalisme. Dalam sekte Calvinis Agama Kristen terbukti bahwa agama tersebut selalu menekankan pada para pengikutnya dengan menekankan untuk bekerja keras dan hidup hemat, dan itu merupakan bagian dari etika Sekte Calvinis tersebut. Kemudian di Jepang dan di Indonesia pun terdapat kenyataan bahwa kaum agamawanlah yang pada kenyataannya memiliki semangat berlebih dalam melakukan interaksi ekonomi. Ikatan kekeluargaan dan etnisitaspun tak terlepas dari kecaman kaum modernis tersebut. Disebutkan bahwa keduanya merupakan faktor yang juga menghambat pertumbuhan ekonomi. Namun statemen tersebut masih saja menemukan kejanggalan.

Familiisme atau sumberdaya keluarga memililki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi seperti kelahiran kapitalisme Cina. Meskipun dalam kaca mata ekonomi, ikatan kekeluargaan juga memberikan efek negative terhadap kemajuan ekonomi. Sebab, akan menempatkan antar individunya dalam “lingkaran setan” loyalitas yang pada hokum kalkulasi rasional ekonomi. ‘Embeddedness’ Ekonomi Dan Perilaku Sosial
Inti dari pendekatan sosial terhadap transaksi ekonomi adalah tindakan-tindakan ekonomi dilihat sebagai fenomena yang melekat dan tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan aspek sosial yang melingkupinya. Dengan demikian ekonomi tidak dapat dianalisis berdiri sendiri sebagai suatu hal yuang otonom, tanpa melihat aspek lain yang mempengaruhinya. Untuk selanjutnya perspektif ini disebut sebagai teori embeddedness (kemelekatan).

Adanya kelangkaan suatu barang yang menjadi kebutuhan manusia,membuat manusia semakin berhati-hati dalam menentukan pilihan tindakan. Manusia semakin bergerak ke tindakan yang semakin efesien dan efektif dengan penuh pertimbangan rasional. Dialektika (pergulatan menemukan sintesa) perjalanan manusia dalam hubungannya dengan suatu situasi yang menuntut pertimbangan matang, merupakan proses konstruksi sosial terhadap kasus ekonomi..

  1. G. Tokoh – Tokoh DalamSosiologi Ekonomi[6]
  • Karl Marx

Karl Marx lahir dalam keluarga Yahudi progresif di Trier, Prusia, (sekarang di Jerman). Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, meskipun cenderung seorang deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal, untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Saudara Herschel, Samuel — seperti juga leluhurnya— adalah rabi kepala di Trier. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl.

Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakan nya di kalimat pembuka pada buku ‘Communist Manifesto’ (1848) :” Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas.” Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat(kaum paling bawah di negara Romawi).

Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme, Marx merupakan kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme. Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. “Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini. – Ideologi Jerman- Dalam hidupnya,Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti, ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal. Pengaruh ini berkembang karena didorong oleh kemenangan dari Marxist Bolsheviks dalam Revolusi Oktober Rusia. Namun, masih ada beberapa bagian kecil dari dunia ini yang belum mengenal ide Marxian ini sampai pada abad ke-20. Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.

  • Emile Durkheim

Durkheim dilahirkan di Épinal, Prancis yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh – ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya – banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.

Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École NormaleSupérieure pada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektual Prancis. Di ENS Durkheim belajar di bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial. Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada saat itu. Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation – syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum – dalam ilmu filsafat pada 1882.

Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Prusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.

Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.

Tahun 1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja dalam Masyarakat”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode Sosiologissebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bourdeaux Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L’Année Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya). Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Bunuh Diri”, sebuah studi kasus yang memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.

Pada 1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat di Paris ketika ia menjadi profesordi Sorbonne. Karena universitas-universitas Prancis secara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar – kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang, pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik, Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan.

Perang Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis – ia mengusahakan bentuk kehidupan Prancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya. Sementara Durkheim giat mendukung negarainya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Prancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Prancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang – sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.

  • Max Weber

Maximilian Weber (lahir di Erfurt Jerman 21 April 1864 – meninggal di München Jerman 14 Juni1920 pada umur 56 tahun) adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern. Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi. Karyanya yang paling populer adalah esai yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yang mengawali penelitiannya tentang sosiologi agama. Weber berpendapat bahwa agama adalah salah satu alasan utama bagi perkembangan yang berbeda antara budaya Barat dan Timur. Dalam karyanya yang terkenal lainnya, Politik sebagai Panggilan, Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, sebuah definisi yang menjadi penting dalam studi tentang ilmu politik Barat modern.

BAB III

KESIMPULAN


[1] Prof. Dr. Bambang Pranowo. Sosiologi, suatu Pengantar. Hlm. 8

[2] http://organisasi.org/definisi-pengertian-sosiologi-objek-tujuan-pokok-bahasan-dan-bapak-ilmu-sosiologi

[3] http://massofa.wordpress.com/2008/09/18/perkembangan-dan-ruang-lingkup-sosiologi-ekonomi/

[4] http://muhamadmuiz.wordpress.com/2009/01/18/sosiologi-ekonomi-sebuah-pertemuan-dua-disiplin-ilmu/

[5] Prof. Dr. Bambang Pranowo. Op. cit. hal. 25 s.d  35

[6] http://id.wikipedia.org/